Kamis, 05 Juni 2014

Hampir Mati



Menahan tangis…
Jeritku, Perih..
Mengais butir demi butir harapan hingga ku dapat asa, agar tetap aku melangkah..
Meski…Jiwaku tak lagi bernafas,
terseka hadirmu yang kian menjauh, Kekasihku.
Ku paksakan dadaku untuk tetap mendesahkan udara..
Berontak ia pertanyakan eksistensimu..
“Dimana ia?”
“Mengapa tak juga mencariku?”
“Tak rindukah ia?”
“Sedang begitu jenuhnya kah dirinya terhadap diriku yang ku sadari memang tak memiliki sisi istimewa?”
“Tak tahukah ia bahwa setiap detik yang berdenting, ku risaukan ia, hanya saja diriku ini tak memiliki segurat nyali untuk mengusiknya dengan candaku”
“Aku takut… Takut kehilangan dirinya dari sisiku tapi apalah dayaku”
Runtuh jiwa dan ragaku dalam uraian pekan
Terhenti jantungku, terseka nafasku...
Tak mampu ku tarik mimpi demi mimpi yang beterbangan dan semakin menghilang dariku.
Tak mampu ku urai langkahku dengan hentak-hentak bergelora
Semakin tertatih dalam kerapuhan..
                                                  Aku adalah jiwa yang tak bernafas dan tak berdetak…
                                                  Itu tanpamu, Kekasihku yang mancung…
Dengarlah rintih kesakitanku,
Segeralah berhambur ke arahku,
Segeralah melebur dalam jantungku. Aku enggan tersiksa seperti ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar