Menahan tangis…
Jeritku,
Perih..
Mengais butir
demi butir harapan hingga ku dapat asa, agar tetap aku melangkah..
Meski…Jiwaku tak
lagi bernafas,
terseka
hadirmu yang kian menjauh, Kekasihku.
Ku paksakan
dadaku untuk tetap mendesahkan udara..
Berontak ia
pertanyakan eksistensimu..
“Dimana ia?”
“Mengapa tak juga mencariku?”
“Tak rindukah ia?”
“Sedang begitu jenuhnya kah dirinya terhadap diriku yang ku sadari
memang tak memiliki sisi istimewa?”
“Tak tahukah ia bahwa setiap detik yang berdenting, ku risaukan ia,
hanya saja diriku ini tak memiliki segurat nyali untuk mengusiknya dengan
candaku”
“Aku takut… Takut kehilangan dirinya dari sisiku tapi apalah dayaku”
Runtuh jiwa
dan ragaku dalam uraian pekan
Terhenti jantungku, terseka nafasku...
Tak mampu ku
tarik mimpi demi mimpi yang beterbangan dan semakin menghilang dariku.
Tak mampu ku
urai langkahku dengan hentak-hentak bergelora
Semakin tertatih
dalam kerapuhan..
Aku
adalah jiwa yang tak bernafas dan tak berdetak…
Itu
tanpamu, Kekasihku yang mancung…
Dengarlah rintih kesakitanku,
Segeralah
berhambur ke arahku,
Segeralah melebur
dalam jantungku. Aku enggan tersiksa seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar