Kebiruan yang lebih hangat dari pelukan
senja dan lebih indah dari kerlingan malam adalah sebuah nostalgia. Seperti
kisah yang terurai dalam alur hidupku. kala itu, hampir 2 minggu lamanya ku
abaikan ia dengan sengaja. Aku tak pernah lagi menyuarakannya dengan lidah dan
bibirku. “Malas” pikirku. Padahal ialah yang memberiku rasa damai dikala aku
gelisah dan tak terarah.
Dalam rentang pekan demi pekan, ku
balut hari-hariku dengan noda-noda yang menempel semakin mengeruh dihatiku. Satu
hal yang ku sadari, siklus perempuan membuatku semakin terlena untuk menabung
noda demi noda. hingga masa suci hadir dalam putaran hidupku, barulah hatiku
mulai mengenang keindahan dirinya. Ku beranikan diriku untuk mendekat padanya,
dengan segenap rasa bersalahku karena sempat mengabaikannya tanpa argumen yang serius.
Ku sapa ia dengan lembut, “lau samah, hal turiidu an takuuna
bi ashaabi, yaa alQur’an?”. Ia
hanya diam, tak menguraikan sepatah kata pun. Sejenak kemudian ia hamparkan
sebuah senyuman hangat, menyambut uluran tanganku untuk berjabat dengannya.
Maka, ku lantunkan kembali ia dengan suara terindah yang masih ku miliki. Dan
dalam beberapa menit, ku akhiri tembang Tuhan itu dengan lafadz “Shadaqallahul
adziiim”. Berkatalah mushaf yang sedang ku pegang dengan khidmah itu, “Engkau
mungkin bisa melupakanku, bahkan hanya dalam hitungan detik. Tapi aku tak akan
pernah melupakanmu dan suaramu, bahkan hingga masa akhirat menjemput. Seburuk
apapun perilakumu, Aku tak pernah bisa kesal kepadamu. Engkau sudah seperti tuanku,
namun sebenarnya akulah yg menjadi Rajamu. Hanya saja, aku tak setuju dengan kalimat-kalimat seperti
itu, engkau adalah sahabat sejatiku, maka datanglah padaku saat gundah dan
bahagiamu. Aku dan ayat-ayatku selalu menantimu.”
Aku terhanyut dengan kelembutan yang terhampar dipelupuk mataku. Berucaplah lidahku dengan segera, “Wahai alQur’an, begitu tulusnya engkau mencintaiku, seperti cinta air pada arusnya, yang tak pernah merajuk bahkan ketika dihempaskan dengan kerasnya batu batu liar. Maka, setialah padaku dan jadilah lenteraku, selalu.…”
Aku terhanyut dengan kelembutan yang terhampar dipelupuk mataku. Berucaplah lidahku dengan segera, “Wahai alQur’an, begitu tulusnya engkau mencintaiku, seperti cinta air pada arusnya, yang tak pernah merajuk bahkan ketika dihempaskan dengan kerasnya batu batu liar. Maka, setialah padaku dan jadilah lenteraku, selalu.…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar