Selasa, 16 Desember 2014

Someone ku


Sastra Indonesia itu indah, sebab itu aku cenderung padanya. Namun bagiku, sastra Arab jauh lebih indah. Sebab aku menemukan sebagian jiwaku didalamnya. Tuhan pun tersenyum padaku karenanya.
Mungkin titik syukurku bukan tertumpu pada waktu ketika diriku bertemu dengannya, tapi lebih pada bagaimana Allah memperlihatkan restu-Nya pada dia yang mencintaiku sejak pertama kali aku menanyakannya pada Allah. Bahkan Allah menunjukkan bagaimana uraian cinta justru dari cara dia mencintaiku. Sungguh cinta yang sangat berbeda dengan deskripsiku sejak awal. Ia menunjukkan ku, betapa luas cinta pada hakikatnya. Itu tak hanya mengenai kata-kata manis dan tatapan yang terpaku saja.
Dahulu, cinta berkata padaku,”Jangan membubung lebih dariku, Kau harus mengikutiku.” Tapi kini, cinta berkata dengan lembut, “Terbanglah sesukamu, aku akan senantiasa menyertaimu, kemanapun kau menjamah dunia.” Ia seperti dunia baru yang memberiku wadah atas semua keceriaan dan airmataku. Ia tak banyak meminta padaku, ia tak banyak mengurai kata tentang kedalaman cinta, namun Allah seolah tak pernah rela ketika aku marah padanya. Cintaku padanya berbahan bakar istikharah. Ketika aku merajuk, ku dirikan istikharah untuk menanyakan kelanjutan cintaku, “jika bukan jodohku biar sampai disini saja. Hapuslah saja semua cinta di hatiku jika itu tak efisien bagiMu.” kataku pada Allah. Tapi setiap kali aku selesai istikharah, Allah selalu memutar memori indah tentang bagaimana dia mengerti keinginan dan kebutuhanku. Allah membuatku terharu dan melupakan kekesalanku, hingga tak tersisa setitikpun. Hatiku berkata, itu adalah cara Allah menyatakan ketidak terimaanNya atas tindakanku ketika kesal padanya. Aku berpikir begitu, bukan semata membenarkan hasratku untuk tetap bersamanya, karena sudah ku tegaskan, aku sudah pasrah pada Tuhan bahkan jika harus selesai, kalimatku itu bukanlah sekedar wujud kekesalanku tapi benar-benar kepasrahanku. Hatiku pengecut, aku tak pernah berani bermain dengan kata-kataku jika belum terfikirkan konsekuensinya.
Saat-saat itu adalah ketika cintaku sedang di titik nol akibat fitnah dan lain-lain. Namun beberapa saat kemudian, aku menemukan sesuatu bahwa sudah ku penuhi syarat istikharah dengan tidak sengaja, sesuai dengan salah satu hadits yang menyebutkan bahwa istikharah harus dilakukan ketika tidak ada kecenderungan, agar hidayah Allah terasa lebih jelas. Kecenderungan membuat hidayah Allah menjadi buram dan samar.Dengan demikian, aku yakin bukan hasrat yang memutar memori indah seusai istikharah. Itulah yang tak lain disebut hidayah Tuhan.
Sekian tahun, Aku membekali cintaku dengan istikharah, karena aku takut salah jalan. Namun tak sekalipun Allah menunjukkan ketidak setujuannya.  Sebab itulah aku berpikir, segala yang muncul dihatiku tentang keyakinan dan cinta bukanlah sebuah fenomena yang terangkai secara kebetulan dengan keniscayaan. Itu adalah cara Allah memanjakanku.
Ia tak suka berlebar cerita. Tapi dalam diamnya pun, Allah menuntunku untuk memahami dirinya dan cintanya. Dengan motivasi yang bersumber dari dia, aku menjadi sosok yang jauh lebih berguna dan lebih dewasa. Tidak lagi berhura-hura layaknya remaja. Seperti Allah yang menuntunku padanya, dalam diam itupun ia membuatku membaca makna akan singgasana Allah dihatiku. Ia memperkenalkanku pada Allah lebih dalam. Ia membuatku semakin dekat dengan Sang Pencipta Cinta.

Yah…tak lebih dan tak kurang, inilah kebanggaan pada kekasihku. Ku harap inilah makna أحبك في الله

Tidak ada komentar:

Posting Komentar