Sastra Indonesia itu indah, sebab itu aku cenderung padanya. Namun
bagiku, sastra Arab jauh lebih indah. Sebab aku menemukan sebagian jiwaku
didalamnya. Tuhan pun tersenyum padaku karenanya.
Mungkin titik syukurku bukan tertumpu pada waktu ketika diriku bertemu
dengannya, tapi lebih pada bagaimana Allah memperlihatkan restu-Nya pada dia
yang mencintaiku sejak pertama kali aku menanyakannya pada Allah. Bahkan Allah
menunjukkan bagaimana uraian cinta justru dari cara dia mencintaiku. Sungguh cinta
yang sangat berbeda dengan deskripsiku sejak awal. Ia menunjukkan ku, betapa
luas cinta pada hakikatnya. Itu tak hanya mengenai kata-kata manis dan tatapan
yang terpaku saja.
Dahulu, cinta berkata padaku,”Jangan membubung lebih dariku,
Kau harus mengikutiku.” Tapi kini, cinta berkata dengan lembut, “Terbanglah
sesukamu, aku akan senantiasa menyertaimu, kemanapun kau menjamah dunia.”
Ia seperti dunia baru yang memberiku wadah atas semua keceriaan dan airmataku. Ia
tak banyak meminta padaku, ia tak banyak mengurai kata tentang kedalaman cinta,
namun Allah seolah tak pernah rela ketika aku marah padanya. Cintaku padanya
berbahan bakar istikharah. Ketika aku merajuk, ku dirikan istikharah untuk
menanyakan kelanjutan cintaku, “jika bukan jodohku biar sampai disini saja. Hapuslah
saja semua cinta di hatiku jika itu tak efisien bagiMu.” kataku pada Allah.
Tapi setiap kali aku selesai istikharah, Allah selalu memutar memori indah
tentang bagaimana dia mengerti keinginan dan kebutuhanku. Allah membuatku
terharu dan melupakan kekesalanku, hingga tak tersisa setitikpun. Hatiku berkata,
itu adalah cara Allah menyatakan ketidak terimaanNya atas tindakanku ketika
kesal padanya. Aku berpikir begitu, bukan semata membenarkan hasratku untuk
tetap bersamanya, karena sudah ku tegaskan, aku sudah pasrah pada Tuhan bahkan
jika harus selesai, kalimatku itu bukanlah sekedar wujud kekesalanku tapi
benar-benar kepasrahanku. Hatiku pengecut, aku tak pernah berani bermain dengan
kata-kataku jika belum terfikirkan konsekuensinya.
Saat-saat itu adalah ketika cintaku sedang di titik nol akibat
fitnah dan lain-lain. Namun beberapa saat kemudian, aku menemukan sesuatu bahwa
sudah ku penuhi syarat istikharah dengan tidak sengaja, sesuai dengan salah
satu hadits yang menyebutkan bahwa istikharah harus dilakukan ketika tidak ada
kecenderungan, agar hidayah Allah terasa lebih jelas. Kecenderungan membuat
hidayah Allah menjadi buram dan samar.Dengan
demikian, aku yakin bukan hasrat yang memutar memori indah seusai istikharah. Itulah
yang tak lain disebut hidayah Tuhan.
Sekian tahun, Aku membekali cintaku dengan istikharah, karena aku
takut salah jalan. Namun tak sekalipun Allah menunjukkan ketidak setujuannya. Sebab itulah aku berpikir, segala yang muncul
dihatiku tentang keyakinan dan cinta bukanlah sebuah fenomena yang terangkai
secara kebetulan dengan keniscayaan. Itu adalah cara Allah memanjakanku.
Ia tak suka berlebar cerita. Tapi dalam diamnya pun, Allah
menuntunku untuk memahami dirinya dan cintanya. Dengan motivasi yang bersumber
dari dia, aku menjadi sosok yang jauh lebih berguna dan lebih dewasa. Tidak lagi
berhura-hura layaknya remaja. Seperti Allah yang menuntunku padanya, dalam diam
itupun ia membuatku membaca makna akan singgasana Allah dihatiku. Ia
memperkenalkanku pada Allah lebih dalam. Ia membuatku semakin dekat dengan Sang
Pencipta Cinta.
Yah…tak lebih dan tak kurang, inilah kebanggaan pada kekasihku. Ku
harap inilah makna أحبك في الله
Tidak ada komentar:
Posting Komentar