Aku pernah kecewa, tapi kemudian Tuhan berbisik,”Aku hanya
memberi apa yang kau butuhkan, bukan sekedar yang kau inginkan.” Nuraniku
menambahkan, “Tuhan memiliki pengetahuan yang tak pernah terbatas, Ia
memilihkan hal terbaik yang bisa membawamu padanya, bukan apa-apa yang kau
inginkan, yang kau pikir bisa membuatmu hanya merasa senang. Ketika Tuhan
melihat keinginanmu tidak bermuara pada jalanNya, maka Ia tak mewujudkan
permintaanmu, dengan memberikan rasa sakit padamu sebelum ia akhirnya
menunjukkan pelangi.”
Aku seringkali menomor duakan Tuhan, dan memprioritaskan duniaku,
tapi ketika aku menangis, Tuhan berbisik, “Senyumlah hambaku, Aku tak pernah
jauh darimu, Aku selalu dihatimu. Kemarilah… Datanglah padaku, Ambillah
keceriaan dan tawamu”, Nuraniku mencela, “Sungguh! Kau manusia
yang tak tahu diri, tapi Tuhan tak pernah melihatmu demikian, kau tetap
dimanjakannya. Tak malukah engkau dengan Tuhanmu yang selalu memberimu ruang
untuk mengadu?”
Aku sulit untuk marah, aku selalu bisa memaklumkan sebuah kesalahan
karena berusaha melihat seperti cara Tuhan melihat dunia, dengan cara pandang
yang luas. Apa yang ku lihat, ku pikir, dan ku rasa tak selamanya seperti apa
adanya, selalu ada makna yang lain. Indera manusia terlalu sempit untuk bisa
mengomentari skenario Tuhan. Tapi suatu kala, amarah datang dengan porsi besar
kemudian menghantam tepat dihatiku, tanpa perintah dari otak sadarku, segera ku
porak-porandakan sekitarku, airmataku mengalir deras, aku menjerit, aku memaki.
Amarah kemudian berbisik, “Kau makhluk dungu! untuk apa menyayangi sesamamu
lebih dari dirimu, bukankah ia tak pernah memperdulikanmu? Bahkan kau lebih
suka menyusahkan dirimu sendiri bukan?. Kau makhluk payah! Mau saja kau
diperdaya makhluk rendah yang lain, buat apa memaklumkan kesalahan, bukankah
semuanya terlalu egois? Ada yang salah dengan otakmu!”maka semakin
menjadilah badai dalam hatiku. Tapi dengan lembut, Tuhan membelai ubun-ubunku, “Hambaku
tersayang, tak ada yang salah dikepalamu, semua yang kau lakukan adalah apa
yang Ku ajarkan padamu. Sadarilah, yang kau lakukan adalah kasih sayang dan
ketulusan. Tak ada kebodohan sama sekali. Justru amarah itulah yang merupakan
kebodohan, yang menutup kejernihan hatimu. Kini tersenyumlah, kau hambaku yang
paling ku sayang”
Ketika aku melampaui euforia, Tuhan menepuk bahuku seraya berkata,
“Aku tak ingin engkau menjadi hambaKu yang tak mengenalKu, setelah ini ku
ambil pelukan dunia yang menimangmu, agar kau berada bersamaKu dan didekatKu. Dengan
begitu, kau akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersamaKu dan selamat
dari tipuan fatamorgana yang mampu menghancurkan jiwamu.”
Ketika aku merasa kesepian, Tuhan kembali memanggilku, “Peluklah
mushaf, Rasakan Aku pada setiap lantunan yang kau perindah. Ketahuilah hambaKu,
saat hidupmu terasa kosong, saat itulah Aku merindukanmu. Aku merindukan rengekanmu
terhadapKu. Aku rindu airmata dan suaramu ketika menyebut namaKu.”
Hingga pada suatu saat, aku menyadari bahwa setiap detik yang ku
lalui, aku selalu meminta ini, meminta itu kepada Tuhanku. Ntah itu hal kecil
maupun hal yang besar. Ntah itu hal yang sepele atau hal yang berarti. Seolah aku
tak memiliki yang lain, seolah hanya Dia yang ku miliki dan tak ada yang bisa
menuruti hatiku selain Dia. Ketika aku bahagia, hatiku berkata, “Terima
Kasih Allah sudah memberiku keindahan”. Ketika aku kecewa, aku mengatakan, “aku
sedih karena Engkau telah memberiku harapan palsu, tapi aku tak bisa
menyalahkanmu, akulah yang terbatas akalnya. Engkaulah pemilik diriku yang
lebih mengetahui baik buruknya sesuatu untukku. Tapi bukankah Engkau berkata
tak akan menyesatkan sebuah hidayah, aku sudah tawakkal padamu, Engkau sendiri
yang meyakinkanku, tapi kenapa begini, Allah?”. Saat itu ku dengar Tuhan
berkata padaku, “Inilah saat yang Aku inginkan, hambaKu. Saat kau tak pernah
melupakan diriku bahkan disaat tawamu. Oh tidak, hambaKu…Aku tidak memberiMu
harapan palsu, aku hanya ingin menggodamu, Aku hanya ingin bercanda denganmu. Harapan
itu hanya Ku ambil sejenak, Kini lihatlah hatimu, lihatlah harapan palsu yang
kau katakan itu, akan Ku sulap menjadi bunga yang bermahkotakan berlian.
Tidakkah kau bahagia dengan hadiahku, Hambaku?”
Kini ku katakan secara sadar, “Oh Allah… Aku hanya mendapat
kecewa jika melangkah hanya dengan berpacu pada akalku sendiri dan tak akan
pernah melihat pelangi. Tapi jika dengan Engkau, sekalipun aku meneteskan airmata,
aku akan tetap tersenyum lebar. Sebab aku bisa memetik bintang dan memeluk
pelangi. Kini aku memohon padaMu, jangan pernah murka terhadapku, jangan pernah
tinggalkan aku sendiri. Aku enggan melangkah tanpa Engkau. Aku tak mau jadi
apapun jika tanpaMu. Aku takut sombong, karena aku ini tak lebih dari seonggok
daging yang buruk. Aku hanya ingin menjadi hambamu, Bonekamu. Jika suatu saat
aku akan memeluk bulan di angkasa, temanilah aku. Agar dimanapun aku tersenyum.
Itu karenamu. Hingga suatu saat ketika aku telah Kau panggil ke Arsy, Kau akan
berkata kepada seluruh penduduk langit, “Inilah dia, salah satu hambaku dari
akhir zaman Muhammad yang ku sayang” . Sang Pemimpin Zamanku akan
menyambutku dengan senyuman terindah, dan berkata “Aku bangga kepadamu, Sa’adah
Abadiyah. Sebutir ummatku dari akhir zaman yang tak pernah melihat dan mengenal
diriku namun tetap mengenang diriku dan disayang Kekasihku.” Ku harap,
Engkau, Allah, sudi mewujudkan mimpi hambamu yang teramat hina ini. Dengan berharap
Nabi Muhammadku juga sudi mendoakan diriku agar aku tak mengukir lebih banyak
salah dimasa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar