Selasa, 16 Desember 2014

TUHAN



Aku pernah kecewa, tapi kemudian Tuhan berbisik,”Aku hanya memberi apa yang kau butuhkan, bukan sekedar yang kau inginkan.” Nuraniku menambahkan, “Tuhan memiliki pengetahuan yang tak pernah terbatas, Ia memilihkan hal terbaik yang bisa membawamu padanya, bukan apa-apa yang kau inginkan, yang kau pikir bisa membuatmu hanya merasa senang. Ketika Tuhan melihat keinginanmu tidak bermuara pada jalanNya, maka Ia tak mewujudkan permintaanmu, dengan memberikan rasa sakit padamu sebelum ia akhirnya menunjukkan pelangi.”

Aku seringkali menomor duakan Tuhan, dan memprioritaskan duniaku, tapi ketika aku menangis, Tuhan berbisik, “Senyumlah hambaku, Aku tak pernah jauh darimu, Aku selalu dihatimu. Kemarilah… Datanglah padaku, Ambillah keceriaan dan tawamu”, Nuraniku mencela, “Sungguh! Kau manusia yang tak tahu diri, tapi Tuhan tak pernah melihatmu demikian, kau tetap dimanjakannya. Tak malukah engkau dengan Tuhanmu yang selalu memberimu ruang untuk mengadu?”

Aku sulit untuk marah, aku selalu bisa memaklumkan sebuah kesalahan karena berusaha melihat seperti cara Tuhan melihat dunia, dengan cara pandang yang luas. Apa yang ku lihat, ku pikir, dan ku rasa tak selamanya seperti apa adanya, selalu ada makna yang lain. Indera manusia terlalu sempit untuk bisa mengomentari skenario Tuhan. Tapi suatu kala, amarah datang dengan porsi besar kemudian menghantam tepat dihatiku, tanpa perintah dari otak sadarku, segera ku porak-porandakan sekitarku, airmataku mengalir deras, aku menjerit, aku memaki. Amarah kemudian berbisik, “Kau makhluk dungu! untuk apa menyayangi sesamamu lebih dari dirimu, bukankah ia tak pernah memperdulikanmu? Bahkan kau lebih suka menyusahkan dirimu sendiri bukan?. Kau makhluk payah! Mau saja kau diperdaya makhluk rendah yang lain, buat apa memaklumkan kesalahan, bukankah semuanya terlalu egois? Ada yang salah dengan otakmu!”maka semakin menjadilah badai dalam hatiku. Tapi dengan lembut, Tuhan membelai ubun-ubunku, “Hambaku tersayang, tak ada yang salah dikepalamu, semua yang kau lakukan adalah apa yang Ku ajarkan padamu. Sadarilah, yang kau lakukan adalah kasih sayang dan ketulusan. Tak ada kebodohan sama sekali. Justru amarah itulah yang merupakan kebodohan, yang menutup kejernihan hatimu. Kini tersenyumlah, kau hambaku yang paling ku sayang

Ketika aku melampaui euforia, Tuhan menepuk bahuku seraya berkata, “Aku tak ingin engkau menjadi hambaKu yang tak mengenalKu, setelah ini ku ambil pelukan dunia yang menimangmu, agar kau berada bersamaKu dan didekatKu. Dengan begitu, kau akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersamaKu dan selamat dari tipuan fatamorgana yang mampu menghancurkan jiwamu.”

Ketika aku merasa kesepian, Tuhan kembali memanggilku, “Peluklah mushaf, Rasakan Aku pada setiap lantunan yang kau perindah. Ketahuilah hambaKu, saat hidupmu terasa kosong, saat itulah Aku merindukanmu. Aku merindukan rengekanmu terhadapKu. Aku rindu airmata dan suaramu ketika menyebut namaKu.”

Hingga pada suatu saat, aku menyadari bahwa setiap detik yang ku lalui, aku selalu meminta ini, meminta itu kepada Tuhanku. Ntah itu hal kecil maupun hal yang besar. Ntah itu hal yang sepele atau hal yang berarti. Seolah aku tak memiliki yang lain, seolah hanya Dia yang ku miliki dan tak ada yang bisa menuruti hatiku selain Dia. Ketika aku bahagia, hatiku berkata, “Terima Kasih Allah sudah memberiku keindahan”. Ketika aku kecewa, aku mengatakan, “aku sedih karena Engkau telah memberiku harapan palsu, tapi aku tak bisa menyalahkanmu, akulah yang terbatas akalnya. Engkaulah pemilik diriku yang lebih mengetahui baik buruknya sesuatu untukku. Tapi bukankah Engkau berkata tak akan menyesatkan sebuah hidayah, aku sudah tawakkal padamu, Engkau sendiri yang meyakinkanku, tapi kenapa begini, Allah?”. Saat itu ku dengar Tuhan berkata padaku, “Inilah saat yang Aku inginkan, hambaKu. Saat kau tak pernah melupakan diriku bahkan disaat tawamu. Oh tidak, hambaKu…Aku tidak memberiMu harapan palsu, aku hanya ingin menggodamu, Aku hanya ingin bercanda denganmu. Harapan itu hanya Ku ambil sejenak, Kini lihatlah hatimu, lihatlah harapan palsu yang kau katakan itu, akan Ku sulap menjadi bunga yang bermahkotakan berlian. Tidakkah kau bahagia dengan hadiahku, Hambaku?


Kini ku katakan secara sadar, “Oh Allah… Aku hanya mendapat kecewa jika melangkah hanya dengan berpacu pada akalku sendiri dan tak akan pernah melihat pelangi. Tapi jika dengan Engkau, sekalipun aku meneteskan airmata, aku akan tetap tersenyum lebar. Sebab aku bisa memetik bintang dan memeluk pelangi. Kini aku memohon padaMu, jangan pernah murka terhadapku, jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Aku enggan melangkah tanpa Engkau. Aku tak mau jadi apapun jika tanpaMu. Aku takut sombong, karena aku ini tak lebih dari seonggok daging yang buruk. Aku hanya ingin menjadi hambamu, Bonekamu. Jika suatu saat aku akan memeluk bulan di angkasa, temanilah aku. Agar dimanapun aku tersenyum. Itu karenamu. Hingga suatu saat ketika aku telah Kau panggil ke Arsy, Kau akan berkata kepada seluruh penduduk langit, “Inilah dia, salah satu hambaku dari akhir zaman Muhammad yang ku sayang” . Sang Pemimpin Zamanku akan menyambutku dengan senyuman terindah, dan berkata “Aku bangga kepadamu, Sa’adah Abadiyah. Sebutir ummatku dari akhir zaman yang tak pernah melihat dan mengenal diriku namun tetap mengenang diriku dan disayang Kekasihku.” Ku harap, Engkau, Allah, sudi mewujudkan mimpi hambamu yang teramat hina ini. Dengan berharap Nabi Muhammadku juga sudi mendoakan diriku agar aku tak mengukir lebih banyak salah dimasa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar