Ketika itu ibundaku merintih kesakitan
setiap malamnya, ia sebut namaku, menginginkan diriku untuk mengelus
punggungnya dengan sayang sepanjang malam. Ku pikir, ibu ingin merasakan
tumpahan kasih sayangku yang sebenarnya tak seberapa dibanding kasih sayang
beliau. Ku tatap ibuku dengan seksama, kerutan-kerutan di dahinya semakin jelas
ketika ia meringis kesakitan. Tak tahan juga rasanya mendengar suaranya yang
semakin tersedu. Tanpa izin dariku, mengalirlah airmata tetes demi tetes seraya
mengiringi suara hatiku, lirih…
“Yaa Robb, Sang Penguasa jagat
raya… kerut-kerut wajah ibuku, pastilah sedang mencaci diriku yang mungkin
menjadi penyebab airmata ibuku seringkali membasahi pipinya, bahkan disaat
beliau sedang membutuhkan elusan kasih sayangku, aku hadir dengan
terkantuk-kantuk sedemian rupa.
Aku lebih banyak melakukan
kesalahan terhadap beliau daripada memberikan senyum kebanggaan. Ampunilah aku
telah banyak menyia-nyiakan ibuku, Yaa Allah..
Yaa Ilahi, Satu-satunya yang patut
di sembah… Aku ingin berkompromi denganmu kali ini, berjanjilah padaku yaa
Allah… gantikan aku untuk menanggung derita penyakit ibuku.
Sungguh, aku tak tahan mendengar
rintihannya. Kini aku tak mampu lagi untuk menahan lebih lama lagi.
Aku memiliki paru-paru yang sehat
untuk bernafas, berikanlah paru-paruku untuk beliau, agar beliau tak susah lagi
untuk bernafas…
Aku memiliki jantung yang kuat
untuk segala aktifitas, berikanlah jantungku untuk beliau, agar beliau tak
merasakan sakit lagi di dadanya …
Aku memiliki lambung yang lebih
baik dari beliau, berikanlah lambungku untuk beliau agar beliau dapat menikmati
segala makanan yang beliau inginkan…
Berikan segala yang ku punya pada
beliau sebagai gantinya.
Bahkan jika nyawa adalah
satu-satunya penawar untuk rasa sakitnya, maka cabutlah saja nyawaku yaa Allah,
jangan ibuku… aku memiliki jalan hidup yang tak seberapa baik, biarlah saja aku
yang Engkau putus jalan hidupnya, agar tak ada lagi keburukan yang ku ukir,
hingga nanti tak akan membuatMu malu karena telah membiarkanku menjadi hambaMu.
Berjanjilah padaku, Yaa Allah.. berikan pada Ibuku segala kebahagiaan sebagai
ganti umurku, berikan segala hidayah sebagai ganti umurku. Setelah ini,
cabutlah nyawaku… cabutlah nyawaku… cabutlah nyawaku sekarang, yaa Allah. Aku
tak ingin melihat ibuku seperti ini.
Sungguh, aku tak bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar