Minggu, 30 November 2014

Tak Logis_Doaku


Ketika itu ibundaku merintih kesakitan setiap malamnya, ia sebut namaku, menginginkan diriku untuk mengelus punggungnya dengan sayang sepanjang malam. Ku pikir, ibu ingin merasakan tumpahan kasih sayangku yang sebenarnya tak seberapa dibanding kasih sayang beliau. Ku tatap ibuku dengan seksama, kerutan-kerutan di dahinya semakin jelas ketika ia meringis kesakitan. Tak tahan juga rasanya mendengar suaranya yang semakin tersedu. Tanpa izin dariku, mengalirlah airmata tetes demi tetes seraya mengiringi suara hatiku, lirih…
“Yaa Robb, Sang Penguasa jagat raya… kerut-kerut wajah ibuku, pastilah sedang mencaci diriku yang mungkin menjadi penyebab airmata ibuku seringkali membasahi pipinya, bahkan disaat beliau sedang membutuhkan elusan kasih sayangku, aku hadir dengan terkantuk-kantuk sedemian rupa.
Aku lebih banyak melakukan kesalahan terhadap beliau daripada memberikan senyum kebanggaan. Ampunilah aku telah banyak menyia-nyiakan ibuku, Yaa Allah..
Yaa Ilahi, Satu-satunya yang patut di sembah… Aku ingin berkompromi denganmu kali ini, berjanjilah padaku yaa Allah… gantikan aku untuk menanggung derita penyakit ibuku.
Sungguh, aku tak tahan mendengar rintihannya. Kini aku tak mampu lagi untuk menahan lebih lama lagi.
Aku memiliki paru-paru yang sehat untuk bernafas, berikanlah paru-paruku untuk beliau, agar beliau tak susah lagi untuk bernafas…
Aku memiliki jantung yang kuat untuk segala aktifitas, berikanlah jantungku untuk beliau, agar beliau tak merasakan sakit lagi di dadanya …
Aku memiliki lambung yang lebih baik dari beliau, berikanlah lambungku untuk beliau agar beliau dapat menikmati segala makanan yang beliau inginkan…
Berikan segala yang ku punya pada beliau sebagai gantinya.
Bahkan jika nyawa adalah satu-satunya penawar untuk rasa sakitnya, maka cabutlah saja nyawaku yaa Allah, jangan ibuku… aku memiliki jalan hidup yang tak seberapa baik, biarlah saja aku yang Engkau putus jalan hidupnya, agar tak ada lagi keburukan yang ku ukir, hingga nanti tak akan membuatMu malu karena telah membiarkanku menjadi hambaMu. Berjanjilah padaku, Yaa Allah.. berikan pada Ibuku segala kebahagiaan sebagai ganti umurku, berikan segala hidayah sebagai ganti umurku. Setelah ini, cabutlah nyawaku… cabutlah nyawaku… cabutlah nyawaku sekarang, yaa Allah. Aku tak ingin melihat ibuku seperti ini.

Sungguh, aku tak bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar