Minggu, 30 November 2014

Tinta Biru

Suamiku sayang...Suatu saat jika aku harus pergi terlebih dahulu untuk menghadap Allah, aku tak akan mengajukan syarat terhadapmu yang mungkin bertujuan menghalangimu untuk  mencari bidadari dunia yang lain sebagai penopangmu untuk melanjutkan perjuangan hidup, dirimu dan buah hati-buah hati kita.
Suamiku tercinta, aku percaya pada Allah lebih dari kepercayaanku pada hatiku sendiri. Tak sulit bagiNya untuk menyatukan dua hati dalam firdaus jika keduanya shalih dan shalihah. Cukuplah bagiNya untuk berfirman, “Kun” makalah bersatulah kita selamanya di bawah relung sayapNya yang Teramat Agung. Hanya saja, aku memiliki satu harapan yang ku warnai ia dengan warna putih sebagai impian abadiku, dan ku warnai ia pula dengan warna merah sebagai warna hatiku teruntuk dirimu yang tak akan dipudarkan waktu.
Suamiku… engkaulah komandan bahtera hidupku di dunia, engkau juga yang menanggung baik burukku di pundakmu seorang diri. Aku memohon pintu maafmu atas segala dosa yang ku tanggungkan terhadapmu. Setelah itu, aku berharap detik-detik terakhirku bisa meringankan engkau kelak di yaumul hisab, aku ingin engkaulah yang membisikkan dua kalimat syahadat di telingaku dan menuntun lidahku untuk mengucapkannya sebelum nafas terakhirku terputus.

Lanjutkanlah perjuangan hidupmu dengan bahagia, Suamiku tercinta. Aku menantimu di pintu surga untuk menggenggam tanganku, bersama melangkahkan kaki, seirama menuju bahtera kita yang sesungguhnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar