Suamiku sayang...Suatu saat jika aku harus pergi
terlebih dahulu untuk menghadap Allah, aku tak akan mengajukan syarat
terhadapmu yang mungkin bertujuan menghalangimu untuk mencari bidadari dunia yang lain sebagai
penopangmu untuk melanjutkan perjuangan hidup, dirimu dan buah hati-buah hati
kita.
Suamiku tercinta, aku percaya pada
Allah lebih dari kepercayaanku pada hatiku sendiri. Tak sulit bagiNya untuk
menyatukan dua hati dalam firdaus jika keduanya shalih dan shalihah. Cukuplah
bagiNya untuk berfirman, “Kun” makalah bersatulah kita selamanya di bawah
relung sayapNya yang Teramat Agung. Hanya saja, aku memiliki satu harapan yang
ku warnai ia dengan warna putih sebagai impian abadiku, dan ku warnai ia pula
dengan warna merah sebagai warna hatiku teruntuk dirimu yang tak akan
dipudarkan waktu.
Suamiku… engkaulah komandan bahtera
hidupku di dunia, engkau juga yang menanggung baik burukku di pundakmu seorang
diri. Aku memohon pintu maafmu atas segala dosa yang ku tanggungkan terhadapmu.
Setelah itu, aku berharap detik-detik terakhirku bisa meringankan engkau kelak
di yaumul hisab, aku ingin engkaulah yang membisikkan dua kalimat syahadat di
telingaku dan menuntun lidahku untuk mengucapkannya sebelum nafas terakhirku
terputus.
Lanjutkanlah perjuangan hidupmu
dengan bahagia, Suamiku tercinta. Aku menantimu di pintu surga untuk
menggenggam tanganku, bersama melangkahkan kaki, seirama menuju bahtera kita
yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar