Jumat, 12 Juni 2015

Kaukah itu?


         Kaukah itu, Suara sayup samar dari balik awan yang berpetuah kepadaku bahwa "Airmata bukanlah hakikat dari penderitaan, Airmata adalah sebab indahnya kebahagiaan."

         Kaukah itu, Angin yang berhembus lembut dan menyejukkanku ketika amarah mengobarkan keangkuhannya didadaku, dan berbisik bahwa "Kesabaran bukanlah ukuran kebesaran jiwa dan hati, tapi usaha untuk memurnikan keduanya"

         Kaukah itu, Cahaya agung yang menyinari kegelapan hatiku disaat aku mulai terjatuh atau angkuh dengan hidupku, seraya berucap bahwa "Kesulitan bukanlah definisi dari kegagalan, tapi cara Tuhan mengajari kita arti kebijaksaan."

         Kaukah itu, yang memberiku bingkisan hadiah seperti apa yang ku minta, memberiku kebahagiaan dengan sebuah tawa yang begitu lepas, dan airmata yang menuntunku pada sebuah hikmah.

       Tuhan, jika itu adalah engkau, maka aku bersujud dengan sedalam-dalamnya sujud karena engkaulah yang selalu berbisik padaku tentang apa yang disembunyikan kehidupan. Hanya saja aku tak tahu apakah rencanaMu terhadapku dengan semua ini. ntah jawabanmu atas pintaku untuk Kau temani selalu, atau wujud kekesalanmu mendengarkan doa-doaku yang berisik. Jika ini adalah jawaban atas doaku, maka terimalah sujudku sebagai hambaMu dengan segala pengabdian yang tak pernah ku hadirkan dimasa lalu, namun jika ini adalah wujud kekesalanmu, maka ampunkanlah aku atas segala dosa yang ku balurkan pada jiwa dan ragaku. Jangan Engkau murka terhadapku, Allah. Ku serahkan segala nafas, pagi dan malamku kepadaMu. Langkahkanlah kakiku sesukaMu, Aku tawakkalkan seluruh hidup dan matiku padaMu Allah. Jangan tinggalkan aku, Jangan biarkan aku sendiri. Aku membutuhkanku dalam setiap nafas yang berhembus. Aku tawakkal kepadaMu.

Minggu, 22 Februari 2015

Romantis


         Kebiruan yang lebih hangat dari pelukan senja dan lebih indah dari kerlingan malam adalah sebuah nostalgia. Seperti kisah yang terurai dalam alur hidupku. kala itu, hampir 2 minggu lamanya ku abaikan ia dengan sengaja. Aku tak pernah lagi menyuarakannya dengan lidah dan bibirku. “Malas” pikirku. Padahal ialah yang memberiku rasa damai dikala aku gelisah dan tak terarah.

          Dalam rentang pekan demi pekan, ku balut hari-hariku dengan noda-noda yang menempel semakin mengeruh dihatiku. Satu hal yang ku sadari, siklus perempuan membuatku semakin terlena untuk menabung noda demi noda. hingga masa suci hadir dalam putaran hidupku, barulah hatiku mulai mengenang keindahan dirinya. Ku beranikan diriku untuk mendekat padanya, dengan segenap rasa bersalahku karena sempat mengabaikannya tanpa argumen yang serius. Ku sapa ia dengan lembut, lau samah, hal turiidu an takuuna bi ashaabi, yaa alQur’an?”. Ia hanya diam, tak menguraikan sepatah kata pun. Sejenak kemudian ia hamparkan sebuah senyuman hangat, menyambut uluran tanganku untuk berjabat dengannya. Maka, ku lantunkan kembali ia dengan suara terindah yang masih ku miliki. Dan dalam beberapa menit, ku akhiri tembang Tuhan itu dengan lafadz “Shadaqallahul adziiim”. Berkatalah mushaf yang sedang ku pegang dengan khidmah itu, “Engkau mungkin bisa melupakanku, bahkan hanya dalam hitungan detik. Tapi aku tak akan pernah melupakanmu dan suaramu, bahkan hingga masa akhirat menjemput. Seburuk apapun perilakumu, Aku tak pernah bisa kesal kepadamu. Engkau sudah seperti tuanku, namun sebenarnya akulah yg menjadi Rajamu. Hanya saja,  aku tak setuju dengan kalimat-kalimat seperti itu, engkau adalah sahabat sejatiku, maka datanglah padaku saat gundah dan bahagiamu. Aku dan ayat-ayatku selalu menantimu.” 
           Aku terhanyut dengan kelembutan yang terhampar dipelupuk mataku. Berucaplah lidahku dengan segera, “Wahai alQur’an, begitu tulusnya engkau mencintaiku, seperti cinta air pada arusnya, yang tak pernah merajuk bahkan ketika dihempaskan dengan kerasnya batu batu liar. Maka, setialah padaku dan jadilah lenteraku, selalu.…

Selasa, 16 Desember 2014

Someone ku


Sastra Indonesia itu indah, sebab itu aku cenderung padanya. Namun bagiku, sastra Arab jauh lebih indah. Sebab aku menemukan sebagian jiwaku didalamnya. Tuhan pun tersenyum padaku karenanya.
Mungkin titik syukurku bukan tertumpu pada waktu ketika diriku bertemu dengannya, tapi lebih pada bagaimana Allah memperlihatkan restu-Nya pada dia yang mencintaiku sejak pertama kali aku menanyakannya pada Allah. Bahkan Allah menunjukkan bagaimana uraian cinta justru dari cara dia mencintaiku. Sungguh cinta yang sangat berbeda dengan deskripsiku sejak awal. Ia menunjukkan ku, betapa luas cinta pada hakikatnya. Itu tak hanya mengenai kata-kata manis dan tatapan yang terpaku saja.
Dahulu, cinta berkata padaku,”Jangan membubung lebih dariku, Kau harus mengikutiku.” Tapi kini, cinta berkata dengan lembut, “Terbanglah sesukamu, aku akan senantiasa menyertaimu, kemanapun kau menjamah dunia.” Ia seperti dunia baru yang memberiku wadah atas semua keceriaan dan airmataku. Ia tak banyak meminta padaku, ia tak banyak mengurai kata tentang kedalaman cinta, namun Allah seolah tak pernah rela ketika aku marah padanya. Cintaku padanya berbahan bakar istikharah. Ketika aku merajuk, ku dirikan istikharah untuk menanyakan kelanjutan cintaku, “jika bukan jodohku biar sampai disini saja. Hapuslah saja semua cinta di hatiku jika itu tak efisien bagiMu.” kataku pada Allah. Tapi setiap kali aku selesai istikharah, Allah selalu memutar memori indah tentang bagaimana dia mengerti keinginan dan kebutuhanku. Allah membuatku terharu dan melupakan kekesalanku, hingga tak tersisa setitikpun. Hatiku berkata, itu adalah cara Allah menyatakan ketidak terimaanNya atas tindakanku ketika kesal padanya. Aku berpikir begitu, bukan semata membenarkan hasratku untuk tetap bersamanya, karena sudah ku tegaskan, aku sudah pasrah pada Tuhan bahkan jika harus selesai, kalimatku itu bukanlah sekedar wujud kekesalanku tapi benar-benar kepasrahanku. Hatiku pengecut, aku tak pernah berani bermain dengan kata-kataku jika belum terfikirkan konsekuensinya.
Saat-saat itu adalah ketika cintaku sedang di titik nol akibat fitnah dan lain-lain. Namun beberapa saat kemudian, aku menemukan sesuatu bahwa sudah ku penuhi syarat istikharah dengan tidak sengaja, sesuai dengan salah satu hadits yang menyebutkan bahwa istikharah harus dilakukan ketika tidak ada kecenderungan, agar hidayah Allah terasa lebih jelas. Kecenderungan membuat hidayah Allah menjadi buram dan samar.Dengan demikian, aku yakin bukan hasrat yang memutar memori indah seusai istikharah. Itulah yang tak lain disebut hidayah Tuhan.
Sekian tahun, Aku membekali cintaku dengan istikharah, karena aku takut salah jalan. Namun tak sekalipun Allah menunjukkan ketidak setujuannya.  Sebab itulah aku berpikir, segala yang muncul dihatiku tentang keyakinan dan cinta bukanlah sebuah fenomena yang terangkai secara kebetulan dengan keniscayaan. Itu adalah cara Allah memanjakanku.
Ia tak suka berlebar cerita. Tapi dalam diamnya pun, Allah menuntunku untuk memahami dirinya dan cintanya. Dengan motivasi yang bersumber dari dia, aku menjadi sosok yang jauh lebih berguna dan lebih dewasa. Tidak lagi berhura-hura layaknya remaja. Seperti Allah yang menuntunku padanya, dalam diam itupun ia membuatku membaca makna akan singgasana Allah dihatiku. Ia memperkenalkanku pada Allah lebih dalam. Ia membuatku semakin dekat dengan Sang Pencipta Cinta.

Yah…tak lebih dan tak kurang, inilah kebanggaan pada kekasihku. Ku harap inilah makna أحبك في الله

TUHAN



Aku pernah kecewa, tapi kemudian Tuhan berbisik,”Aku hanya memberi apa yang kau butuhkan, bukan sekedar yang kau inginkan.” Nuraniku menambahkan, “Tuhan memiliki pengetahuan yang tak pernah terbatas, Ia memilihkan hal terbaik yang bisa membawamu padanya, bukan apa-apa yang kau inginkan, yang kau pikir bisa membuatmu hanya merasa senang. Ketika Tuhan melihat keinginanmu tidak bermuara pada jalanNya, maka Ia tak mewujudkan permintaanmu, dengan memberikan rasa sakit padamu sebelum ia akhirnya menunjukkan pelangi.”

Aku seringkali menomor duakan Tuhan, dan memprioritaskan duniaku, tapi ketika aku menangis, Tuhan berbisik, “Senyumlah hambaku, Aku tak pernah jauh darimu, Aku selalu dihatimu. Kemarilah… Datanglah padaku, Ambillah keceriaan dan tawamu”, Nuraniku mencela, “Sungguh! Kau manusia yang tak tahu diri, tapi Tuhan tak pernah melihatmu demikian, kau tetap dimanjakannya. Tak malukah engkau dengan Tuhanmu yang selalu memberimu ruang untuk mengadu?”

Aku sulit untuk marah, aku selalu bisa memaklumkan sebuah kesalahan karena berusaha melihat seperti cara Tuhan melihat dunia, dengan cara pandang yang luas. Apa yang ku lihat, ku pikir, dan ku rasa tak selamanya seperti apa adanya, selalu ada makna yang lain. Indera manusia terlalu sempit untuk bisa mengomentari skenario Tuhan. Tapi suatu kala, amarah datang dengan porsi besar kemudian menghantam tepat dihatiku, tanpa perintah dari otak sadarku, segera ku porak-porandakan sekitarku, airmataku mengalir deras, aku menjerit, aku memaki. Amarah kemudian berbisik, “Kau makhluk dungu! untuk apa menyayangi sesamamu lebih dari dirimu, bukankah ia tak pernah memperdulikanmu? Bahkan kau lebih suka menyusahkan dirimu sendiri bukan?. Kau makhluk payah! Mau saja kau diperdaya makhluk rendah yang lain, buat apa memaklumkan kesalahan, bukankah semuanya terlalu egois? Ada yang salah dengan otakmu!”maka semakin menjadilah badai dalam hatiku. Tapi dengan lembut, Tuhan membelai ubun-ubunku, “Hambaku tersayang, tak ada yang salah dikepalamu, semua yang kau lakukan adalah apa yang Ku ajarkan padamu. Sadarilah, yang kau lakukan adalah kasih sayang dan ketulusan. Tak ada kebodohan sama sekali. Justru amarah itulah yang merupakan kebodohan, yang menutup kejernihan hatimu. Kini tersenyumlah, kau hambaku yang paling ku sayang

Ketika aku melampaui euforia, Tuhan menepuk bahuku seraya berkata, “Aku tak ingin engkau menjadi hambaKu yang tak mengenalKu, setelah ini ku ambil pelukan dunia yang menimangmu, agar kau berada bersamaKu dan didekatKu. Dengan begitu, kau akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersamaKu dan selamat dari tipuan fatamorgana yang mampu menghancurkan jiwamu.”

Ketika aku merasa kesepian, Tuhan kembali memanggilku, “Peluklah mushaf, Rasakan Aku pada setiap lantunan yang kau perindah. Ketahuilah hambaKu, saat hidupmu terasa kosong, saat itulah Aku merindukanmu. Aku merindukan rengekanmu terhadapKu. Aku rindu airmata dan suaramu ketika menyebut namaKu.”

Hingga pada suatu saat, aku menyadari bahwa setiap detik yang ku lalui, aku selalu meminta ini, meminta itu kepada Tuhanku. Ntah itu hal kecil maupun hal yang besar. Ntah itu hal yang sepele atau hal yang berarti. Seolah aku tak memiliki yang lain, seolah hanya Dia yang ku miliki dan tak ada yang bisa menuruti hatiku selain Dia. Ketika aku bahagia, hatiku berkata, “Terima Kasih Allah sudah memberiku keindahan”. Ketika aku kecewa, aku mengatakan, “aku sedih karena Engkau telah memberiku harapan palsu, tapi aku tak bisa menyalahkanmu, akulah yang terbatas akalnya. Engkaulah pemilik diriku yang lebih mengetahui baik buruknya sesuatu untukku. Tapi bukankah Engkau berkata tak akan menyesatkan sebuah hidayah, aku sudah tawakkal padamu, Engkau sendiri yang meyakinkanku, tapi kenapa begini, Allah?”. Saat itu ku dengar Tuhan berkata padaku, “Inilah saat yang Aku inginkan, hambaKu. Saat kau tak pernah melupakan diriku bahkan disaat tawamu. Oh tidak, hambaKu…Aku tidak memberiMu harapan palsu, aku hanya ingin menggodamu, Aku hanya ingin bercanda denganmu. Harapan itu hanya Ku ambil sejenak, Kini lihatlah hatimu, lihatlah harapan palsu yang kau katakan itu, akan Ku sulap menjadi bunga yang bermahkotakan berlian. Tidakkah kau bahagia dengan hadiahku, Hambaku?


Kini ku katakan secara sadar, “Oh Allah… Aku hanya mendapat kecewa jika melangkah hanya dengan berpacu pada akalku sendiri dan tak akan pernah melihat pelangi. Tapi jika dengan Engkau, sekalipun aku meneteskan airmata, aku akan tetap tersenyum lebar. Sebab aku bisa memetik bintang dan memeluk pelangi. Kini aku memohon padaMu, jangan pernah murka terhadapku, jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Aku enggan melangkah tanpa Engkau. Aku tak mau jadi apapun jika tanpaMu. Aku takut sombong, karena aku ini tak lebih dari seonggok daging yang buruk. Aku hanya ingin menjadi hambamu, Bonekamu. Jika suatu saat aku akan memeluk bulan di angkasa, temanilah aku. Agar dimanapun aku tersenyum. Itu karenamu. Hingga suatu saat ketika aku telah Kau panggil ke Arsy, Kau akan berkata kepada seluruh penduduk langit, “Inilah dia, salah satu hambaku dari akhir zaman Muhammad yang ku sayang” . Sang Pemimpin Zamanku akan menyambutku dengan senyuman terindah, dan berkata “Aku bangga kepadamu, Sa’adah Abadiyah. Sebutir ummatku dari akhir zaman yang tak pernah melihat dan mengenal diriku namun tetap mengenang diriku dan disayang Kekasihku.” Ku harap, Engkau, Allah, sudi mewujudkan mimpi hambamu yang teramat hina ini. Dengan berharap Nabi Muhammadku juga sudi mendoakan diriku agar aku tak mengukir lebih banyak salah dimasa depan.

Minggu, 30 November 2014

Hakikat Cinta


“Cinta laki-laki bagaikan gunung yang kuat dan kokoh, namun rapuh pada kenyataannya. Suatu kala ia bisa meluruh hanya dengan siraman air hujan.”
“Cinta perempuan bagaikan kuku, terlihat kecil dan sepele. Namun selalu tumbuh ketika ia dipotong.”
Memang, cinta terlalu berat untuk dijalani seorang manusia biasa. Bagaimana tidak? Cinta itu anugerah Tuhan yang selalu menyembuhkan segala macam luka, ruhani maupun jasmani. namun, sayang diantara berbagai macam makhluk, disana tertera beberapa praduga salah. Tudingan yang mengucilkan cinta adalah lahir dari hasrat yang seringkali bertindak atas nama cinta, dan bukanlah dzat cinta itu sendiri.
Dari awal dunia hingga akhir, cinta tak akan pernah melukai. Jika suatu saat, ada sebutir airmata pada jalan cinta, itu semata karena manusialah yang tak pandai menghargai dan memaknai cinta.
Cinta lebih tenang ketika mengalir, ia tak bergelombang maupun bergejolak..
Seperti apa yang telah ku dengar juga, pena lebih tergesa-gesa dalam menguraikan cinta, namun cinta lebih gemulai dalam meniti langkahnya.
Aku hanyalah seorang manusia biasa, seperti pada hakikatnya, sulit bagiku meniti tapak demi tapak cinta. Aku tak bisa mengikuti cinta. Cinta pun mungkin tak akan meniti diriku sebab keagungan dirinya. Namun, bagi seorang awwam sepertiku, cinta sejati seperti halnya keterpautan dua hati melangkah bersama dengan hentak yang menjadi mantab dan menjadi lurus sebab sebuah pertemuan dan perpaduan menuju Sang Pencipta Cinta.

Aku Hanya Ingin, Istiqamah


Aku tahu betul, jalan hidupku penuh lika-liku, tak lurus di jalan Allah..
Sering sekali aku mendahulukan duniaku lebih dari Allah yang ku miliki..
Aku ini… Sungguh hina..
Maafkanlah aku telah menduakanMu, Allah. Janganlah murka terhadap kedzalimanku.
Ampuni aku… Jangan tinggalkan aku. Aku takut melangkah tanpa Engkau.

Allah… Aku tahu Engkau Maha Melihat, Engkaulah satu-satunya saksi atas segala keburukan duniaku. Engkau pula yang Maha Menyaksikan segala tingkah lakuku.
Engkau tahu bukan?seringkali aku memaklumkan dan melemahkan perjuanganku atas Engkau. Pasti Engkau tahu juga bukan? Bahwa seringkali aku memaksakan diriku dari batas ragaku, ku lampaui batas kesanggupanku, sanggup tidak sanggup, aku harus…
Aku tahu, Engkau membenci seseorang yang hanya mampu berbicara namun tak bisa melaksanakannya. Seringkali aku berkata pada orang untuk menjaga dirinya. Namun, Bukan aku tak ingin menjaga diriku. Aku hanya terlalu sering melihat kemaklumanku. Aku pun terlalu sering melihat noda-noda hitam terpercik dalam hatiku, dalam ragaku, dalam akhlakku. Ketahuilah Allah, ketika ku paksakan tubuhku melebihi batas kesanggupan, aku berharap satu hal benar dalam hidupku adalah dapat menjaga istiqamah dalam puasaku, Qur’anku, dan sujud-sujudku.
Aku ingin mendahulukan Engkau terlebih dari segalanya di dunia..
Sesuatu yang selama ini, terlalu lemah di hatiku. Berikan hidayahMu, untuk memperkuat diriku, Allah.


Tak Logis_Doaku


Ketika itu ibundaku merintih kesakitan setiap malamnya, ia sebut namaku, menginginkan diriku untuk mengelus punggungnya dengan sayang sepanjang malam. Ku pikir, ibu ingin merasakan tumpahan kasih sayangku yang sebenarnya tak seberapa dibanding kasih sayang beliau. Ku tatap ibuku dengan seksama, kerutan-kerutan di dahinya semakin jelas ketika ia meringis kesakitan. Tak tahan juga rasanya mendengar suaranya yang semakin tersedu. Tanpa izin dariku, mengalirlah airmata tetes demi tetes seraya mengiringi suara hatiku, lirih…
“Yaa Robb, Sang Penguasa jagat raya… kerut-kerut wajah ibuku, pastilah sedang mencaci diriku yang mungkin menjadi penyebab airmata ibuku seringkali membasahi pipinya, bahkan disaat beliau sedang membutuhkan elusan kasih sayangku, aku hadir dengan terkantuk-kantuk sedemian rupa.
Aku lebih banyak melakukan kesalahan terhadap beliau daripada memberikan senyum kebanggaan. Ampunilah aku telah banyak menyia-nyiakan ibuku, Yaa Allah..
Yaa Ilahi, Satu-satunya yang patut di sembah… Aku ingin berkompromi denganmu kali ini, berjanjilah padaku yaa Allah… gantikan aku untuk menanggung derita penyakit ibuku.
Sungguh, aku tak tahan mendengar rintihannya. Kini aku tak mampu lagi untuk menahan lebih lama lagi.
Aku memiliki paru-paru yang sehat untuk bernafas, berikanlah paru-paruku untuk beliau, agar beliau tak susah lagi untuk bernafas…
Aku memiliki jantung yang kuat untuk segala aktifitas, berikanlah jantungku untuk beliau, agar beliau tak merasakan sakit lagi di dadanya …
Aku memiliki lambung yang lebih baik dari beliau, berikanlah lambungku untuk beliau agar beliau dapat menikmati segala makanan yang beliau inginkan…
Berikan segala yang ku punya pada beliau sebagai gantinya.
Bahkan jika nyawa adalah satu-satunya penawar untuk rasa sakitnya, maka cabutlah saja nyawaku yaa Allah, jangan ibuku… aku memiliki jalan hidup yang tak seberapa baik, biarlah saja aku yang Engkau putus jalan hidupnya, agar tak ada lagi keburukan yang ku ukir, hingga nanti tak akan membuatMu malu karena telah membiarkanku menjadi hambaMu. Berjanjilah padaku, Yaa Allah.. berikan pada Ibuku segala kebahagiaan sebagai ganti umurku, berikan segala hidayah sebagai ganti umurku. Setelah ini, cabutlah nyawaku… cabutlah nyawaku… cabutlah nyawaku sekarang, yaa Allah. Aku tak ingin melihat ibuku seperti ini.

Sungguh, aku tak bisa.